Kajian Cerpen: Simbolisme Dalam Cerpen “Hujan” Karya Sutarji Calzouum Bachri

by FerdinaEn Saragih , at 2:07 PM , has 3 komentar
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sastra adalah suatu seni yang hidup bersama-sama dengan Bahasa. Tanpa bahasa sastra tidak mungkin ada. Melalui bahasa ia dapat mewujudkan dirinya berupa sastra lisan, maupun tertulis. Walaupun perwujudan sastra menggunakan bahasa, kita tidak dapat memisahkan sastra dari bahasa, ataupun membuangnya dari peradaban bahasa itu sendiri, karena itu merupakan suatu perbuatan yang sangat biadab, Karena sastra adalah sebuah “hidup” bagi seorang penulis

Ada dua jenis (genre) karya sastra Indonesia, yaitu puisi dan prosa. Pada awalnya, puisi disebut sebagai karangan terikat karena harus memenuhi aturan yang menyangkut jumlah kata, larik, dan bait, serta pola bait; sebaliknya prosa disebut karangan bebas karena tidak terikat oleh aturan itu.

Ada dua jenis (genre) karya sastra Indonesia, yaitu puisi dan prosa. Pada awalnya, puisi disebut sebagai karangan terikat karena harus memenuhi aturan yang menyangkut jumlah kata, larik, dan bait, serta pola bait; sebaliknya prosa disebut karangan bebas karena tidak terikat oleh aturan itu.

Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu (1) Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi. (2) Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan habasa yang singkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah atau aturan tertentu (3) Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa. (4)Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog. Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan.

Karya sastra dengan keutuhannya secara semiotik dapat dipandang sebuah tanda. Sebagai suatu bentuk, karya sastra secara tertulis akan memiliki sifat kerungan. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda menanda yang menyiaratkan makna semiotik. Dari dua tataran (level) antara mimetik dan semiotik (atau tataran kebahasaan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk dipahami dan dihayati.

Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan.

cerpen karya Sutarji Calzoum Bachri yang berjudul “Hujan”telah banyah mengisyaratkan simbolisme yang tidak dapat kita artikan secara realita, sehingga dibutuhkan pengkajian secara semiotik. kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya penulis mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Hal inilah yang membawa penulis mengkaji cerpen “hujan” Karya Sutarji Calzoum bachri.

1.2 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam suatu kajian sangatlah penting hal ini dimaksudkan agar permasalahan yang akan di kaji lebih terarah dan tidak terjadi penyimpangan yang terlampau jauh dari permasalahan semula.

Berdasarkan latar belakang yang demikian luas dan umum, penulis akhirnya membatasi permasalahan hanya dalam bidang semiotik mengenai makna simbolisme dalam cerpen ‘Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri?

1.3 Perumusan masalah

Berdasarkan urayan latar belakang di atas, penulis akan merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan pengkajian sebagai berikut:

a. Bagaimana struktur cerpen hujan tersebut?

b. Apa saja simbol yang di tuangkan oleh Sutarji dalam cerpen hujan tersebut? sehingga terlihat begitu terpadu dan indah?

c. Makna apa yang tersirat dalam simbolisme yang dituangkan dalam cerpen Hujan tersebut?

1.4 Tujuan dan Manfaat Kajian

Adapun tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah kajian Prosa, adalah:

a) Mendeskripsikan Struktur Cerpen “hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri.

b) Mendeskripsikan metode struktur dan semiotika dalam mengkaji Prosa.

c) Memaparkan satu contoh mengkaji Prosa secara Semiotik dari unsur simbolisme.

d) Mendeskripsikan simbolisme dalam Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri.

LANDASAN TEORETIS

2.1 Cerpen/Prosa

Menurut kamus istilah sastra yang diterbitkan oleh Balai bahasa, cerpen adalah kiasan yang memberi kesan tunggal yang dominan tentang satu tokoh dalam satu latar dan satu situasi dramatik; cerpen. Cerpen harus memperhatikan kepaduan sebagai patokan dasarnya (short story Ing.)

Cerpen bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita.

Sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya. yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas.

Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut.

2.1.1 Unsur-unsur Pokok Cerpen

Menurut Nyoman Kutha Ratna, unsur pokok atau sering disebut juga sebagai unsur intrinsik yang terkandung didalam cerpen antara lain: (1) Tema, (2) Peristiwa atau, Kejadian, (3) Latar atau Seting, (4) Penokohan atau Perwatakan, (5) Alur atau Plot, (6) Sudut Pandang dan (7) Gaya Bahasa.

2.2 Semiotik

2.2.1 Sejarah Semiotik

Di akhir abad ke sembilan belas filsuf Amerika Charles Sanders Peirce memulai sebuah studi yang dinamakannya “semiotic”, dan dalam bukunya COURSE IN GENERAL LINGUISTICS (1915) linguis Swiss Ferdinand de Saussure tanpa mengetahui ide Peirce tersebut mengusulkan sebuah ilmu ( a science) yang disebutnya “semiology”. Sejak itu semiotika dan semiologi telah menjadi nama-nama alternatif bagi sebuah ilmu umum tentang tanda-tanda (a general science of signs), seperti yang terdapat dalam semua pengalaman manusia. Menurut ilmu ini pemakaian tanda tidak terbatas pada sistem komunikasi yang eksplisit seperti bahasa, kode Morse, dan tanda serta signal lalulintas; beragam aktivitas dan produksi manusia lainnya – postur dan gerak badan kita, ritual sosial yang kita lakukan, pakaian yang kita pakai, makanan yang kita sajikan, bangunan tempat kita tinggal – mengandung “arti” yang dimengerti oleh anggota-anggota dari kebudayaan tertentu, makanya bisa dianalisis sebagai tanda-tanda yang berfungsi dalam berbagai jenis sistem signifikasi. Walaupun studi tentang bahasa (pemakaian tanda-tanda verbal) dianggap hanya sebagai satu cabang semiotika, linguistics yang merupakan ilmu tentang bahasa yang sangat berkembang menyediakan metode dan peristilahan dasar yang dipakai oleh seorang semiotikus dalam mempelajari semua sistem-tanda sosial lainnya.

C.S. Peirce membedakan tiga kelas tanda, yang didefinisikannya dalam konteks jenis hubungan antara item yang menandakan dan yang ditandakan: (1) IKON, berfungsi sebagai tanda melalui persamaan inheren, atau unsur-unsur yang dimiliki bersama, dengan apa yang ditandakan; contoh-contohnya adalah persamaan antara sebuah potret dengan manusia yang digambarkannya, atau persamaan antara sebuah peta dengan wilayah geografis yang diwakilinya. (2) INDEKS adalah sebuah tanda yang memiliki hubungan kausal dengan apa yang ditandakan; jadi, asap merupakan tanda yang mengindikasikan api, dan sebuah alat penunjuk arah angin mengindikasikan arah angin berhembus. (3) Dalam SIMBOL (atau dengan istilah yang kurang ambiguitas, “tanda sebenarnya”) hubungan antara item penanda dan apa yang ditandakan bukanlah sebuah hubungan yang alami, tapi merupakan sebuah konvensi sosial. Gerakan berjabatan tangan, misalnya, dalam banyak kebudayaan merupakan tanda konvensional untuk sapaan ataupun perpisahan, dan lampu lalulintas berwarna merah secara konvensional menandakan “Berhenti!” Contoh paling utama dan paling kompleks dari tipe tanda ketiga ini adalah kata-kata yang membentuk sebuah bahasa.

Saussure memperkenalkan banyak dari istilah dan konsep yang dipakai para semiotikus sekarang ini. Yang paling penting adalah sebagai berikut: (1) Sebuah tanda terdiri dari dua komponen atau aspek yang tidak dapat dipisahkan, yaitu “signifier” (dalam bahasa, seperangkat bunyi ujaran, atau tanda-tanda di atas kertas) dan “signified” (konsep, atau ide, yang merupakan arti dari tanda tersebut). (2) Sebuah tanda verbal, dalam peristilahan Saussure, bersifat “arbitrary”. Maksudnya, dengan onomatopoeia (kata-kata yang kita anggap sama dengan bunyi-bunyi yang ditandakan) sebagai pengecualian kecil, tidak ada hubungan inheren atau alami antara sebuah “signifier” verbal dengan apa yang ditandakan (signified). (3) Identitas dari semua elemen sebuah bahasa, termasuk kata-katanya, bunyi-bunyi ujaran komponennya, dan konsep-konsep yang ditandakan kata-kata, tidak ditentukan oleh “kualitas positif”, atau unsur-unsur objektif dalam elemen-elemen itu sendiri tapi oleh perbedaan (differences), atau sebuah jaringan hubungan, yang terdiri dari perbedaan dan oposisi dengan bunyi-bunyi ujaran lainnya, kata-kata lainnya, dan “signified” lainnya yang terdapat hanya dalam sebuah sistem linguistik tertentu. (4) Tujuan dari linguistics, atau usaha semiotika lainnya, adalah untuk memahami “parole” (sebuah ujaran verbal, atau sebuah pemakaian khusus tanda atau seperangkat tanda) hanya sebagai sebuah manifestasi dari “langue” (yaitu sistem umum dari perbedaan-perbedaan implisit dan aturan-aturan kombinasi yang mendasari dan memungkinkan sebuah pemakaian khusus tanda). Fokus perhatian semiotika lebih banyak terletak pada sistem yang mendasari “langue” daripada pada sebuah “parole” tertentu.

Semiotika modern berkembang di Perancis di bawah pengaruh Saussure hingga banyak semiotikus juga merupakan strukturalis. Mereka membahas setiap fenomena atau produksi sosial sebagai “teks”, yakni seperti yang terbentuk oleh struktur-struktur yang berdiri sendiri, mandiri dan hierarkis dari tanda-tanda, “kode-kode” fungsional yang ditentukan secara berbeda-beda, dan aturan-aturan kombinasi dan transformasi yang membuatnya “berarti” bagi anggota-anggota sebuah masyarakat. Claude Levi-Strauss, di tahun 1960an dan sesudahnya, memulai penerapan semiotika atas antropologi budaya dan pendirian strukturalisme Perancis dengan memakai linguistics Saussure sebagai model untuk menganalisis berbagai fenomena dan praktek-praktek dalam masyarakat primitif, yang diperlakukannya sebagai setengah-bahasa, atau struktur-struktur penanda yang independen. Ini termasuk sistem kekerabatan, sistem totem, cara menyiapkan makanan, mitos, dan mode pra-logis dalam penginterpretasian dunia. Jacques Lacan menerapkan semiotika atas psikoanalisis Freud, dengan menginterpretasikan ketaksadaran sebagai sebuah struktur tanda, seperti bahasa; dan Michel Foucault melakukan pendekatan analisis yang serupa untuk mendiskusikan, dalam berbagai periode sejarah, interpretasi medis atas symptom penyakit, perubahan dalam identifikasi, klasifikasi dan perawatan orang gila, dan konsep-konsep seksualitas manusia. Roland Barthes, yang secara eksplisit menerapkan prinsip-prinsip dan metode Saussure, menulis analisis semiotik atas konstituen dan kode sistem-tanda dalam iklan fashion perempuan, dan juga dalam banyak “ mitos borjuis ” tentang dunia ini yang menurutnya dicontohkan dalam sistem-tanda sosial seperti pertandingan gulat profesional, mainan anak-anak, “ornamental cookery”, dan tarian telanjang striptease. Barthes juga dalam tulisan-tulisan awalnya merupakan seorang eksponen utama dari kritik strukturalis yang membahas teks sastra sebagai “sebuah sistem semiotik lapisan kedua”; maksudnya, teks sastra dipandang sebagai memakai sistem bahasa yang merupakan lapisan pertama untuk membentuk struktur yang lebih tinggi tingkatannya, sesuai dengan sistem elemen-elemen, konvensi dan kode berbeda sastra.

2.2.2 Defenisi Semiotik Menurut Para Ahli

Sebagai ilmu semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun nonverbal. Sebagai pengetahuan praktis, pemahaman terhadap keberadaan tanda-tanda, khususnya yang dialami dalam kehidupan sehari-hari berfungsi untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui efektifitas dan efesiensi energi yang harus dikeluarkan. Memahami sistim tanda, bagaimana cara kerjanya, berarti menikmati suatu kehidupan yang lebih baik. konflik, salah paham, dan berbagai perbedaan pendapat diakibatkan oleh adanya perbedaan penafsiran terhadap tanda-tanda kehidupan.

Di satu pihak, ilmuwan sosial mencoba memecahkan masalah sosial yang terjadi dengan cara menemukan latar belakangnya, sekaligus memecahkan secara teoretis, misalnya, dengan teori konflik. Di pihak yang lain, ia juga dapat memecahkannya melalui semiotika, misalnya, interaksi sosial. Tujuannya yang dicapai sama, yaitu mengatasi konflik suatu masyarakat tertentu.

Dick Hartoko memberi batasan, semiotika adalah bagaimana karya itu ditafsirkan oleh para pengamat dan masyarakat lewat tanda-tanda dan lambang-lambang. Sedeangkan

Luxemburg mengatakan bahwa semiotik adalah ilmu-ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem-sistemnya dan proses perlambangan (santoso 1993:3).

Aart Van Zoest mendefinisikan semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda dan segala yang berhubungan dengannya.

Sujadi Wiryaatmaja mengatakan bahwa Semiotik adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dan maknanya yang luas di dalam kehidupan masyarakat baik yang lugas maupun yang kias.

METODE KAJIAN

3.1 Metode Kajian

Adapun metode yang dilakukan penulis yaitu dengan menggunakan metode Deskriptif. Penulis akan mendeskripsikan data untuk menemukan unsur-unsurnya. Studi untuk menyusun makalah ini berupa pencarian referensi dari beberapa buku yang dapat dijadikan acuan untuk menggali informasi yang aktual dan tetap berpegang pada prinsip representatif. Selain berbagai buku apresiasi dan kajian Prosa, penulis juga menggunakan media Maya untuk mencari data yang relevan dengan pembuatan makalah.

3.2 Sumber Data

Objek yang diteliti adalah Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri, dalam buka yang berjudul ”Hujan Menulis Ayam” yang diterbitkan oleh Penerbit INDENESIATERA, Magelang, 2001. Cerpen “Hujan” ini berada pada halaman 3- 6. Cerpen ini merupakan Cerpen pertama yang disuguhkan dari 9 Cerpen.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data, penulis menggunakan studi pustaka, yaitu teknik yang digunakan untuk memperoleh bahan penunjang yang berhubungan dengan permasalahan.

3.4 Teknik Pengolahan Data

Dalam pengolahan data, penulis menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisis data.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Struktural

Prosa (karya sastra) merupakan sebuah struktur. Struktur di sini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik, saling menentukan. Jadi, kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung.

Dalam pengertian struktur ini terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga ide dasar, yaitu ide kesatuan, ide transfomasi, dan ide pengaturan diri sendiri. Pertama, struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua, struktur itu berisi gagasan transformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis. Ketiga, struktur itu mengatur diri sendiri, dalam arti struktur itu tidak memerlukan pertolongan dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasi. Jadi, setiap unsur itu mempunyai fungsi tertentu berdasarkan aturan dalam struktur itu. Setiap unsur mempunyai fungsi tertentu berdasarkan letaknya dalam struktur itu.

Strukturalisme itu pada dasarnya merupakan cara berfikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-srukturnya. Menurut pikiran strukturalisme, dunia (karya sastra merupakan dunia yang diciptakan pengarang) lebih merupakan susunan-susunan hubungan daripada susunan benda-benda. Oleh karena itu, kodrat tiap unsur dalam struktur itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan maknanya ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu. (Hawkes, 1978:17-18).

Sebelum penulis membahas tentang simbolisme secara semiotik dalam cerpen Hujan karya Sutarji Calcoum Bachri, penulis lebih dulu membahas unsur pokok (struktur) yang terkandung di dalam dalam cerpen tersebut. Menurut Nyoman Kutha Ratna unsur-unsur prosa antara lain:

4.1.1Tema

Tema sebuah cerpen merupakan pokok permasalahan yang mendasari sebuah cerita. Pokok permasalahan itu mungkin berupa kehidupan, pandangan hidup, atau komentar terhadap lingkungan. Tema berkedudukan secara penting karena m,erupakan titik sentral yang melatar belakangi terjadinya suatu cerita atau peristiwa.

Cerpen “Hujan” mengisahkan seorang gadis enam belas tahun yang begitu mencintai Hujan. Penulis mendapat gambaran yang jelas bahwa tema cerita yang terdapat dalam cerpen Hujan adalah keadaan alam atau lingkungan.

4.1.2 Peristiwa atau Kejadian

Peristiwa dalam cerpen Hujan ini mengisahkan seorang anak gadis yang begitu menyukai hujan. Jika kita telaaah lebih dalam kita akan menemukan latar belakang mengapa gadis tersebut begitu menyukai hujan. Bermula karena kebenciannya pada matahari. Seperti pada kutipan dibawah ini.

Bermula karena merajuk kepada matahari, ia beranjak senang pada hujan. Itu ketika usia limatahunan, ketika ikut-ikutan ibunya memindahkan anak tanaman suplir ke halaman yang lantas remuk redam dibantai panas siang.

4.1.3 Latar atau Seting

Dalam suatu cerita latar di bentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.

4.1.3.1 Latar Tempat

Adapun latar tempat yang terdapat dalam cerpen Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri ialah ruangan dalam rumah Ayesha. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan di bawah ini.

Terpagut pada tari hujan, Ayesha mulai bersijingkat ke tengah ruangan dan segera melangkahkan tarian.

Lantas, jemari-jemari kakinya meniti-niti tari sambil membiarkan tempias tari di lantai. Maka, lantai ruangan ikut basah dengan tarian.

Dalam puncak hujan tariannya itu, tiba-tiba pintu di buka dari luar. Ayesa tersentak dan putuslah tariannya.

4.1.3.2 Latar Waktu

Adapun latar waktu yang terdapat dalam cerpen Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri ialah ketika Hujan. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan dari alinea pertama cerpen tersebut.

Hujan menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan Ayesha, gadis yang enam belas tahun yang tadinya nyenyak di kamar.

4.1.3.3 Latar Sosial

Adapun latar sosial kehidupan yang terdapat dalam cerpen Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri ialah sebuah kehidupan yang sederhana. Ini terlihat pada kutipan di bawah ini.

Ibunya pulang dari super market terperangah sesaat melihat lantai basah. Supermarket disini menunjukkan keluarga ayesha adalah keluarga yang sederhana. Tidak kekurangan atau sangat berkecukupan.

4.1.4 Penokohan atau Perwatakan

Pada cerpen Hujan tersebut, tokoh utama bukanlah pengarangnya sendiri. Dibawah ini akan di bahas beberapa tokoh yang melukiskan penokohan setiap tokoh.

Ayesha adalah seorang anak yang pintar. Ini dapat kita lihat pada kutipan berikut.

Di kelas, jika hujan datang ia selalu menatap keluar. Guru mula-mula kesal. Tapi akhirnya dibiarkan. Bagaimanapun ia anak yang pintar.

4.1.5 Alur atau Plot

Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut.

4.1.6 Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan suatu teknik yang digunakan pengarang dalam menentukan kedudukan atau posisi dalam suatu cerita, terutama mengenai dirinya.

Pengarang dalam cerita ini bertindak sebagai peninjau atau sebagai pihak luaran. Maksudnya pengarang tidak menggunakan sebutan “aku” tapi pengarang langsung menyebut namanya atau sebutan ia. Seperti pada kutipan dibawah ini

“Alhamdulilah hujan,” bilang ayesha sambul turun dari ranjang dan melangkah ke depan.

4.1.7 Gaya Bahasa

Peranan bahasa merupakan hyal yang sangat penting dalam mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaan seseorang khususnya pengarang. Pengungkapan hal tersebut akan lebih baik apabila penggunaan bahasa itu difariasikan dengan gaya bahasa, yang pada akhirnya akan menimbulkan serta memberikan keindahan, kenikmatan, dan perasaan tertentu bagi pembaca.

Dibawah ini akan diuraikan beberapa gaya bahasa yang di gunakan pengarang dalam cerpen hujan tersebut.

- Personifikasi, ini terlihat saat pengarang memjadikan benda mati seakan-akan bernyawa, berprilaku seperti manusia. Hal ini terlihat pada kutipan seperti; (1) Hujan menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan ayesha, gadis enam belas tahun yang tadinya lelap di kamar. (2) Dan iapun kini paham, hujan diluar mengajak bangkit hujan yang didalam dirinya, nyanyi hujan di atap, lambayan hujan pada dedaunan, dan laki-laki hujan di halaman terus memanggil-manggil. (3) lihatlah, hujan meloncat-loncat dari ranting keranting dan menjadi ranting hujan.

- Simile, ini terlihat saat pengarang menggunakan Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll. Hal ini terlihat pada kutipan seperti; bagai angsa mengarungi telaga, iapun asik melayarkan tari.

- Hiperbola, terlihat saat pengarang melebih-lebihkan kenyataan, sehingga kenyataan, sehingga kenyataan tersebut tidak menjadi masuk akal. Terlihat pada kutipan seperti; (1) ia telah menjadi hujan sekarang. Ia menderas dari pojok ke pojok ruangan menarikkan hujan. (2) kini Ayesha telah memiliki buah dan mawar hujan.

4.2 Semiotik

Dari defenisi yang diungkapkan oleh Aart Van Zoest yang mengatakan bahwa semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda dan segala yang berhubungan dengannya. Sehingga Karya sastra dengan keutuhannya secara semiotik dapat dipandang sebuah tanda. Sebagai suatu bentuk, karya sastra secara tertulis akan memiliki sifat kerungan. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda menanda yang menyiaratkan makna semiotik. Dari dua tataran (level) antara mimetik dan semiotik (atau tataran kebahasaan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk dipahami dan dihayati. Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas simbolisme yang di lukiskan Sutarji dalam cerpen hujan tersebut.

4.2.1 Simbolisme dalam Cerpen “Hujan” karya Sutarji Calzoum Bachri.

Karya sastra adalah seni yang banyak memanfaatkan simbol. untuk mengungkapkan dunia bawah sadar agar kelihatan nyata dan lebih jelas, pengarang menggunakan kiasan-kiasan dan perlambang dalam ceritanya. Setiap peristiwa atau kejadian, juga kadang-kadang nama tokoh tidak disampaikan secara naturalistik dan realistik sebagaimana adanya, tetapi disampaikan secara figuratif dan perlambang. Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49).

Judul cerpen “hujan” karya sutarji calzoum Bachri ini telah mengisyaratkan sebuah personifikasi sifat-sifat manusia, yaitu pengungkapan hujan yang direfleksikan sebagai mahluk hidup khususnya manusia. Sutarji melukiskan hujan sebagai sahabat atau teman akrab. hujan sebagai laki-laki yang dapat memanggil-manggil. hujan yang mampu mendedahkan sastra, musik, nyanyi, atau tari. Hujan yang menyibak-nyibakkan tarian dan melentun anggun pada dahan, dan batang. Hal ini jelas merupakan bagian dari mahluk hidup khususnya manusia.

Cerpen hujan karya sutarji calzoum Bachri ini dibuka dengan “hujan yang menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan ayesha, gadis enam belas tahun yang tadinya nyenyak di kamar. Jika kita kaji lagi kata-kata yang digunakan Sutarji untuk melukiskan hujan begitu menyamai kelakuan manusia sebagai mahluk hidup.

Sebagai perlambang, Cerpen hujan karya sutarji calzoum Bachri ini lebih kaya dengan nuansa-nuansa alam dengan pohon-pohonnya. Ini melukiskan kesejukan mengikat suasana. Barangkali pemakaian simbol-simbol yang dipaparkan dalam Cerpen hujan tersebut, supaya terlihat lebih bermakna, dan harus dikembalikan kepada realita kehidupan dengan alam, dimana karya dan pengarang itu hidup.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan kajian terhadap Cerpen hujan karya sutarji calzoum Bachri ini, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Cerpen hujan karya sutarji calzoum Bachri ini lebih dominan dengan gaya bahasa personifikasi, ini terlihat saat pengarang menjadikan benda mati seakan-akan bernyawa, berprilaku seperti manusia. Yang mengisyaratkan sebuah personifikasi sifat-sifat manusia, yaitu pengungkapan hujan yang direfleksikan sebagai mahluk hidup khususnya manusia.

2. Sebagai perlambang, Cerpen hujan karya sutarji calzoum Bachri ini lebih kaya dengan nuansa-nuansa alam dengan pohon-pohonnya. Ini melukiskan kesejukan yang mengikat suasana.

DAFTAR PUSTAKA

MH Abrams, A GLOSSARY OF LITERARY TERMS, 5th Edition, 1988, Holt, Rinehart and Winston, Inc, New York (terjemahan Saut Situmorang)

Ratna, Nyoman Kutha, 2004. Teori, Metode, dan teknik Penelitian Sastra, yogyakarta: Pustaka pelajar.

Santoso, Puji, 1993, ancangan semiotika dan pengkajian susastra, Bandung: Angkasa

http://sastradewa.blogspot.com/2008/03/pengertian-fungsi-dan-ragam-sastra.html

http://awan965.wordpress.com/2008/12/20/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami/

http://sungaibatinku.wordpress.com/kesastraan/analisis-cerpen-lembu-di-dasar-laut karya-afrizal-malna/

Penulis: Ferdinaen Saragih

Kajian Cerpen: Simbolisme Dalam Cerpen “Hujan” Karya Sutarji Calzouum Bachri
About
Kajian Cerpen: Simbolisme Dalam Cerpen “Hujan” Karya Sutarji Calzouum Bachri - written by FerdinaEn Saragih , published at 2:07 PM, categorized as Sastra . And has 3 komentar
3 komentar Add a comment
wah senang cerpen yah,,,dukung terus kawan
Reply Delete
dimanakah boleh mendapatkan carpen ini?
Reply Delete
postingan ini sangat menarik serta enak dibaca, saya berharap bisa berkunjung lagi
Reply Delete

Silahkan Berkomentar! No SPAM, No LINK, No URL pada isi komentar atau di Delete. Pilih Name/Url, untuk memasukkan link. Artikel bisa di copy-paste, Pastikan menulis sumber dan penulisnya. Terimakasih.

Bck
Cancel Reply
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger